Di sebuah desa di pesisir, warung kopi bukan cuma tempat ngopi. Itu pusat informasi, gosip, bahkan kadang semacam kantor informal. Dari harga kopra yang naik turun sampai cerita pilu soal musim panen yang diguyur hujan deras.
Di situlah Rahman, seorang petani kopra yang jarang pegang ponsel selain untuk WA grup keluarga, pertama kali mendengar soal permainan bernama Mahjong Ways. Awalnya cuma lewat celetukan kawannya. “Katanya si Budi kemarin bisa nutup utang warung gara-gara main di ponsel.” Rahman tertawa, sambil menyeruput kopi hitam. Di kepalanya, semua itu hanya cerita untuk mengisi waktu luang.
Tapi lama-lama, rasa penasaran mengalahkan logika. Terutama setelah beberapa kali panen kopra anjlok. Harga jual ke tengkulak jatuh, biaya pupuk tetap tinggi. Rungkad, begitu istilahnya, dan bukan hanya soal permainan, tapi hidup sehari-hari.
Rahman mencoba. Malam hari setelah pulang dari kebun, ia membuka aplikasi yang direkomendasikan temannya, INDOPROMAX. Tak ada ekspektasi muluk. Namun seperti kebanyakan orang, ia ikut hanyut. Dan tentu, tak selalu berakhir manis.
Beberapa kali ia kehilangan saldo dengan cepat. Bukan jumlah besar, tapi cukup bikin dahi berkerut. “Kayak panen diserang hama, habis sebelum sempat dijual,” katanya. Meski begitu, ada sisi lain yang bikin ia bertahan. Ada pola, ada strategi, dan yang lebih penting ada peluang untuk menutup kerugian asal sabar dan tidak gegabah.
Rahman mulai belajar. Tidak asal tekan, tidak asal gas. Ia memperhatikan pola permainan, momen tertentu saat scatter muncul, bagaimana timing bisa menentukan hasil. Dari cerita komunitas online, ia tahu bahwa Mahjong Ways 2 lebih ramah bagi mereka yang tahu kapan harus berhenti.
Ia mengatur batas. Setiap kali main, ada target kecil. Misalnya cukup 200 ribu per sesi, lalu berhenti. Prinsipnya sama dengan mengelola kebun: jangan semua kelapa dipetik sekaligus, simpan untuk esok.
Strategi sederhana itu perlahan membuahkan hasil. Rungkad yang dulu terasa berat mulai tertutup. Sampai suatu malam, keberuntungan benar-benar memihak. Dalam sekali putaran, saldo melompat, totalnya tembus Rp20 juta. Jumlah yang bagi Rahman setara dengan dua kali hasil panen kopra.
Cerita Rahman ini bukan sekadar angka. Ia mengajarkan sesuatu tentang adaptasi. Petani yang terbiasa dengan lumpur dan matahari kini memanfaatkan layar ponsel untuk mencari celah rezeki tambahan. Tidak selalu mulus, tidak selalu menang. Tapi pengalaman itu nyata, bukan sekadar angan.
Apakah semua orang akan seberuntung Rahman? Tentu tidak. Sama seperti bertani, ada musim baik dan musim buruk. Ada hari panen, ada hari gagal. Yang membedakan adalah bagaimana kita membaca tanda dan tahu kapan harus mundur.
Rahman kini kembali ke kebunnya, tetap dengan tangan penuh kapur sisa mengupas kelapa. Bedanya, ada rasa lega. Utang lama sudah tertutup, anak bungsunya bisa dibelikan sepatu baru.
Dari warung kopi sampai layar ponsel, perjalanan ini seolah menegaskan satu hal: peluang bisa datang dari arah yang tak disangka. Bukan soal meninggalkan profesi lama, tapi memadukan cara lama dan baru untuk tetap bertahan.
Kalau kamu merasa pernah rungkad, mungkin ini saatnya mencoba pendekatan berbeda. INDOPROMAX sudah jadi pintu masuk bagi banyak orang yang ingin balik modal dengan cara lebih cerdas. Coba sendiri, atur strategi, dan siapa tahu giliranmu berikutnya.